Penjual Es Cendol


          Ketika itu saya masih duduk di kelas 5 MA, salah satu anggota reporter Al-Amien Post bersama beberapa kawan seangkatan saya. Dengan memakai kalung tanda pengenal, kami diizinkan menggunakan kamera, duduk di barisan terdepan dekat tim dokumentasi pondok di setiap acara, mewawancarai mudir-mudir dan ustadzah, melembur di perpustakaan ISTAMA (organisasi seperti OSIS) untuk menyelesaikan berita dan edit koran. Biasanya kami menerbitkan koran Al-Amien Post sekali seminggu, setiap hari jum’at.
          Tapi hari ini, kami yang biasanya hanya berkeliling memperhatikan sekitar mencari bahan untuk dijadikan berita berbekal kamera dan notes kecil, kami memiliki tugas tambahan. Karena saat apel tahunan banyak wali santri, alumni, bahkan tetangga pondok ikut hadir melihat pertunjukkan yang disuguhkan para santri, kami ditugaskan menjajakan majalah Qanita yang bertumpuk di perpustakaan ISTAMA. Dengan dibagi menjadi beberapa kelompok, berkelilinglah kami dengan nampan kardus berisi majalah Qanita berbagai tahun terbit. Selagi memperhatikan sekitar, kami menawarkan majalah Qanita kesana kemari.
          Beberapa saat berkeliling di bawah siraman matahari yang semakin panas, saya dan kawan saya memutuskan untuk menepi dan membeli minuman di antara pedagang-pedagang di pinggir jalan yang memang diperbolehkan pondok berjualan hari itu di sana. Selagi saya memesan cappuchino-cincau, saya melirik teman sekelompok saya yang asyik minum.
          “Sst.. al-majalah! Jarrib bi’i ila al-bai’! (majalahnya! Coba jajakan ke penjual!)” bisik saya dengan Bahasa Arab.
          Dia berkedip. “Laa! Ana astahii! Anti faqod! (nggak! Aku malu! Kamu aja!)”
          “Pak,” aku mencoba menyapa bapak penjual es cendol di sebelahku. “sudah lama jualan es ya, Pak?”
          Bapak tersebut menoleh. “Lumayan, dek. Sekitar tujuh-sembilan tahunan.”
          “Wah. Oiya Bapak, mau beli majalah Qanita, nggak, Pak? Di majalah ini banyak karya-karya pilihan santriwati, Pak. Bagus-bagus, loh!” saya memberi si bapak salah satu majalah dari nampan.
          Beliau menerimanya, membuka-buka halaman perlahan seraya melirik ke arah penjual minuman di kanan-kirinya. Beliau berbisik pada temannya dengan Bahasa Madura yang saya paham, ini cara bacanya gimana? Penjual yang dilirik hanya mengangkat bahu dan tertawa.
          Saya mengerutkan alis heran karena bapak penjual cendol membaca-baca majalah yang terbalik atas-bawahnya. Saya membalik majalah tersebut dengan senyum canggung, “begini Pak, cara bacanya.”
          “Oh,” si bapak tertawa pahit. “Saya nggak tau baca, Dek! Tapi saya mau beli satu buat putri saya, biar nanti bisa jadi kayak adek-adek ini.”
“Putri bapak kelas berapa?” mata saya berbinar.
          “Iya, sudah. Baru lulus SD, dek. Sekarang ada di rumah, belum bisa lanjut sekolah. Maunya sih, masuk ke pondok Al-Amien kayak adek.” kata bapak itu seraya tersenyum ke arah kami berdua. “do’akan, ya, Dek? Saya masih ngumpulin uang sama istri, biar putri saya bisa sekolah tahun depan.”
          Saya dan kawan saya bertatapan haru, “Amin.”
          “Tapi saya beli majalahnya nanti ya, Dek? Saya belum dapat penghasilan pagi ini. Mungkin agak siangan, baru ada. Berapa harganya, Dek?” tanya Pak cendol.
          “Dua puluh empat ribu, Pak.” Jawab saya pelan, tiba-tiba merasa harga itu terlalu mahal bagi bapak ini.
          “Berarti, empat pelanggan, ya?” si bapak menghitung-hitung. “Nanti kesini lagi ya, Dek? Sisakan satu buat bapak.”
          “Siap, Pak!” jawab kami.
          Kemudian, bos kami memanggil. Kami berkumpul sebentar untuk berfoto dengan salah satu alumni beranak dua yang dulu pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Qanita tahun 2007. Setelah itu, bos menyuruh kami istirahat sebentar sebelum duduk di barisan terdepan untuk menyaksikan pertunjukkan demi pertunjukkan.
          Pikiran saya saat itu melayang pada bapak penjual cedol, saya berdo’a dalam hati agar cendol beliau laris manis tak bersisa hari ini.
          Usai apel tahunan, saya lihat kawan-kawan reporter saya mewawancarai beberapa subjek. Saya memutuskan untuk berlari ke area pedagang berjualan dengan satu majalah Qanita terbaru di tangan, mencari bapak penjual cendol yang tadi minta disisakan majalah. Setelah berlari-lari di antara keramaian, saya tidak menemukan bapak tadi di tempat semula. Saya berkeliling, mungkin beliau berpindah tempat. Nihil, saya kembali ke titik awal, memutuskan untuk bertanya pada ibu penjual cappuchino-cincau yang seharusnya berjualan di sebelah beliau.
          “Oh, dia sudah pergi dari tadi, Dek. Sebelum acara selesai.” jawab si ibu.
          “Oh,” ada rasa kecewa dan bersalah di dada. Seharusnya saya datang lebih cepat. “Makasih, Bu.”
          Dengan langkah lunglai saya kembali ke kawanan reporter. Kawan saya yang tadi ikut membeli minuman dekat pak cendol merangkul saya, sudah menduga apa yang terjadi dari raut wajah murung saya. Saya meletakkan kembali majalah Qanita ke nampan. Seharusnya saya datang lebih cepat tadi.

Comments

Post a Comment